pengertian syajaah
pengertian syajaah

Pengertian Syaja’ah, Dalil, Perwujudan, Cara Menanamkan Sifatnya

Posted on

Apakah kamu tahu betapa pentingnya sikap syaja’ah untuk ditanamkan pada setiap muslim? Maka dalam artikel ini akan menjawab terkait pengertian syajaah, dalil-dalilnya, perwujudan dari sikap syaja’ah dan bagaimana cara menanamkan sikap tersebut dalam diri.

Kehidupan di dunia tentulah tak lepas dari berbagai ujian, mulai dari ujian yang ringan sampai ujian yang sangat berat, mulai dari ujian yang nampak sampai ujian yang tak nampak seperti prinsip mempertahankan tentang kebenaran.

Dalam Islam prinsip itu dinamakan syaja’ah. Syaja’ah merupakah sifat yang sangat terpuji dan disukai oleh Allah SWT, karena Allah memang menyukai hamba-hamba yang mempunyai prinsip keteguhan dalam diri mereka untuk membela sebuah kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran itu akan mengantarkan mereka pada keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Pengertian Syaja’ah

Syaja’ah dalam bahasa Arab berasal dari kata syaju’a yasju’u syaja’atan yang memiliki arti yaitu pemberani atau teguh, dengan lawan katanya yaitu Al-Jubn artinya pengecut atau penakut.

Kemudian menurut istilah kata syaja’ah dapat diartikan yaitu sikap keteguhan hati, artinya memiliki prinsip pendirian yang kuat dalam membela dan mempertahankan sebuah kebenaran secara bijaksana.

Atau dapat diartikan bahwa syaja’ah yaitu sifat hati yang percaya diri ketika mengadapi sesuatu yang Allah tetapkan tanpa adanya rasa gentar.

pengertian syajaah
pengertian syajaah

Adapun arti syaja’ah yang berasal dari kamus mu’jam yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang artinya, adanya quwwah (kekuatan) dan jur’ah (kegagahan, ketekunan, serta keberanian pada diri seseorang)

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, syaja’ah merupakan sifat terpuji yang menggambarkan sikap keberanian dan keteguhan seseorang, dalam membela sebuah kebenaran tanpa adanya rasa takut dan gentar.

Bukan hanya itu, tapi syaja’ah juga merupakan sifat serani ketika menghadapi ujian yang menimpanya, yang tentu sudah Allah tetapkan dalam hidupnya.

Karena sifat syaja’ah ini tidak semata-mata terjadi di sebuah peperangan saja, akan tetapi sifat syaja’ah merupakan sebuah sikap mental pada diri seorang untuk menguasai jiwanya. Yang di dalam diri seorang pengecut tidak akan ditemui sifat ini.

Dalil-Dalil Syaja’ah

Dalam Al-Qur’an sudah Allah terangkan ke beberapa ayat yang menggambarkan sifat syaja’ah, yang bunyinya sebagai berikut:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), apabila kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali-Imran: 139)

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (QS. Al-Anfal: 15-16)

 

وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau akan menggabungkan diri bersama pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah SWT, dan tempatnya adalah neraka jahannam. Dan amat buruk tempat kembalinya.” (QS. Al-Anfal: 16)

Selain pada dalil Al-Qur’an, syaja’ah ini juga terdapat pada hadits yang bunyinya yaitu:

Loading...

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anha bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Bukanlah yang dinamakan pemberani itu adalah orang yang kuat bergulat. Sesungguhnya pemberani itu adalah orang yang sanggup menguasai dirinya di saat waktu marah.” (Muttafaq ‘alaihi)

Hadits syaja’ah yang mengingatkan tentang penguasa yang dzolim.

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan sebuah kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang dzolim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011.  Yang dikatakan oleh Al-Hafizh Thohir bahwa hadits ini merupakan hadits hasan).

Dalam dalil Al-Qur’an dan hadits di atas sudah jelas bahwa seorang yang beriman haruslah memiliki sifat yang syaja’ah. Artinya berani membela kebenaran dalam islam, dan berani dalam mengahadapi cobaan yang sekalipun hal itu membahayakan untuk dirinya, ia akan tetap teguh terhadap prinsip membela sebuah kebenaran dan menguasai dirinya tentang menaklukan rasa takut.

Perwujudan Syaja’ah

Dari sikap syaja’ah ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan seorang muslim menjadi beberapa bentuk perwujudan, yaitu sebagai berikut:

Al-I’tirafu bil Khatha’i atau mengakui kesalahan, bagi seseorang untuk mengakui kesalahan tidaklah mudah apabila ia mempunyai sifat yang angkuh dan egois, akan tetapi seseorang yang mempunyai sifat syaja’ah, dia tidak akan malu untuk mengakui kesalahannya, meskipun untuk melakukan hal itu mungkin dia akan berada dalam bahaya.

perwujudan syajaah
perwujudan syajaah

Ash-Syarahan Fil Haq atau berterus terang dalam sebuah kebenaran, seseorang yang tertanam dalam hatinya tentang keteguhan hati akan sifat syaja’ah, dia akan berkata dengan apa adanya secara berterus terang. Tak peduli apakah hal itu akan membahayakan atau tidak, sebab yang ia katakan adalah sebuah kebenaran.

Al-Inshafu min Adz-Dzati atau bersikap objektif pada diri sendiri, seseorang yang memiliki sifat syaja’ah akan bersikap objektif pada dirinya sendiri, tentang kelebihan dan kekurangan yang dia punya.

Milku An-Nafsi ‘ainda Al-Ghadhabi atau menguasai diri ketika sedang marah, sifat syaja’ah merupakan salah satu benteng untuk mengendalikan emosi seseorang.

Quwwatul Ihtimal atau daya tahan yang kuat, seseorang yang di dalam hatinya teguh akan sifat syaja’ah tentu akan memiliki daya pertahanan dalam dirinya yang kuat, misalnya saja ketika dia mengahadapi sebuah kesulitan dalam memperjuangkan sesuatu di jalan Allah dia tidak akan mundur begitu saja. Karena dalam hatinya tertanam prinsip yang kuat pada Rabb-Nya.

Cara Menanamkan Sifat Syaja’ah

Sifat Syaja’ah yang tertanam kuat pada diri seseorang tentu tidak terbentuk dengan begitu saja, akan tetapi untuk menanamkan sifat itu haruslah membangun hubungan dengan Allah SWT, berikut adalah cara-cara yang bisa untuk melatih seseorang dalam menanamkan sifat syaja’ah.

Beriman pada Allah dan hal-hal yang gaib lainnya, beriman pada Allah adalah kunci paling utama agar seseorang yakin dengan apa yang terjadi dalam semesta ini merupakan sesuatu yang tak lepas dari pengaturan-Nya. Seperti yang sudah dikisahkan oleh orang-orang terdahulu di masa Rasulullah.

Al-Mujahadatu ‘Alal Khauf atau menaklukkan rasa takut, setiap manusia pasti pernah merasakan takut tentang sesuatu hal, namun ketika rasa takut itu tidak ditaklukan, maka seseorang akan menemukan banyak ketidakberanian dalam dirinya sendiri.

Maka rasa takut itu haruslah ditaklukan dengan mempercayai bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang berada dalam sikap kebaranian tentang sesuatu yang benar.

Ash-Shabru ‘ala -Tha’ah atau bersabar dalam hal ketaatan, adanya sifat keberanian untuk membela sebuah kebenaran merupakan salah satu hasil dari kesabaran dalam ketaatan seseorang pada Allah SWT, karena tidak akan bisa terbentuk sifat keberanian tanpa adanya sifat sabar dalam taat terhadap Allah.

Keyakinan adanya pahala dari Allah, sesorang yang senantiasa mengharapkan ridho dari Allah SWT tentu sangat yakin terhadap pahala suatu kebaikan.

Karena adanya keyakinan itu akan membuat dia lebih berani dalam berjuang di jalan Allah untuk membela kebenaran, serta berani untuk menerima apapun yang sudah Allah tetapkan.